Fri. May 14th, 2021

BANYUWANGI – Ada pemandangan istimewa hari ini, Kamis (6/10) di lingkangan Pemkab Banyuwangi. Melestarikan budayanya, pagi tadi seluruh staf kantor pemkab mengenakan baju adat Khas Banyuwangi. Karyawan perempuan mengenakan kebaya hitam dipadu kain batik khas Banyuwangi, sedangkan yang laki-laki mengenakan baju adat hitam-hitam berudeng (penutup kepala khas suku Using Banywuangi-pink).

Tepat pukul 07.00 WIB, karyawan karyawati di lingkungan pemkab mulai mengikuti apel pagi yang digelar di halaman kantor. Barisan apel yang biasanya dipenuhi aparat birokrasi dengan pakaian dinas harian (PDH) coklat, kini terlihat lebih menarik. Mereka semua mengenakan pakaian adat khas Using, mulai dari Sekretaris Daerah, Asisten, kepala SKPD hingga karyawan karyawati tanpa terkecuali.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Slamet Kariyono, menyampaikan, hari ini merupakan hari pertama pemkab memberlakukan pakaian dinas baru. Ini didasarkan Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor : 27 Tahun 2016, tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Kabupaten Banyuwangi yang ditindaklanjuti dengan surat edaran (SE) Sekretaris Daerah Nomor 065/236/429.013/2016 tentang penggunaan pakaian adat Banyuwangi sebagai Pakaian Dinas Harian (PDH).

“Dalam SE itu menyebutkan pedoman pakaian adat baik untuk pria maupun wanita. Pakaian ini akan digunakan satu minggu sekali, dan dipakai setiap Kamis,” kata Sekkab.

Sekkab Slamet menambahkan, pemakaian baju adatuntuk pakaian dinas merupakan salah satu upaya untuk meng-uri-uribudaya Banyuwangi. “Pariwisata kita telah dikenal luas, yang menunjukkan bahwa tradisi dan budaya kita dikagumi oleh pihak luar. Maka kita pun harus bangga dan terus berupaya melestarikan tradisi kita, termasuk salah satunya dengan mengenakan pakaian adat di kalangan birokrasi,” ujar Sekkab.

Selain menumbuhkan cinta budaya Banyuwangi, imbuh Sekkab, juga untuk menghidupkan kembali industri kecil menengah (IKM) bordir di Banyuwangi. Salah satu kriteria seragam untuk karyawati adalah kebaya bordir.

“Bayangkan, jika seluruh PNS yang jumlahnya sekitar 14 ribu akan menggunakan pakaian dinas bordir, sudah berapa pesanan bordir yang diterima IKM tersebut. Inilah maksud kami. Meski mengenakan kebaya kami berharap, tidak mengurangi besarnya pelayanan publik justru semakin semangat,” pungkas Sekkab.

Seragam pakaian adat ini juga disambut antusias oleh seluruh karayawan karyawati. Mereka tak cangung ataupun ribet, senyumnya terus mengembang sambil memperlihatkan baju khas Banyuwangi kepada sesama rekannya. Bahkan, usai mengikuti apel pagi, mereka tak lantas masuk ruangan masing-masing. Namun berlomba-lomba mengabadikan seragam barunya denganwefiebareng.

“Asyik. Ayo foto sekali lagi dong bareng-bareng. Kalau di depan kolam sepertinya tambah bagus,” kata Nur Suciati karyawati Bagian Pemerintahan yang terus berselfie. (Humas)